Bersepeda

Karya Ketut Santosa, terinspirasi dari relief Pura Meduwe Karang

Binatang dalam Hutan

Karya Widari - Murid Sekolah Dasar Nagasepaha

Dewi Durga

Karya Made Wijana, murid SMK Sukasada

'Singa Ambara Raja' Lambang Kota Singaraja

Karya Luh Widari, Siswa SD Nagasepaha

Sang Barata

Karya Dalang Dyah, mal untuk pengerjaan lukisan kaca.

Buku tentang Seni Lukis Kaca Nagasepaha*


Lukisan kaca Nagasepaha telah menjadi kebanggaan Buleleng dan Bali. Karya-karya ini bukan hanya menghiasi ruang-ruang tamu penduduk desa di Bali utara, yang sempat populer tahun 1970 dan 1980-an, tapi juga menjadi hiasan banyak altar (atau mrajan dan sanggah) masyarakat Bali. Lukisan kaca juga sempat menghiasi pelataran hotel-hotel di Bali. Karya-karya Dalang Diah dan putra-putranya, serta cucu dan tetangga-tetangganya kini menyebar ke berbagai penjuru dunia.


Tiga peneliti yang sangat rinci menuliskan seni lukis kaca di Nagasepa ini adalah Joseph Fisher, Thomas Cooper dan Hardiman.


Dalam buku "The Folk Art of Bali: The Narrative Tradition", Joseph Fischer dan Thomas Cooperini mengulas seni lukis kaca dengan sangat menarik. Bagian 6 buku ini (dari halaman 94 sampai akhir buku ini) terdapat ulasan Glass Painting in Bali, hampir keseluruhan bagian ini membahas peran para seniman lukis kaca di Nagasepaha.


Bahakan dalam "Sacred Painting in Bali: Tradition in Transition" karya Thomas L. Cooper. Bahkan dalam buku ini ada bab khusus tentang perkembangan lukisan kaca di Nagasepaha.


Sementara Hardiman, peneliti lokal yang kerap membicarakan dan menulis lukisan Nagasepaha, seorang dosen seni rupa di Undiksha-Singaraja, ulasannya tidak kalah menarik dengan 2 penulis Amerika tersebut. Sayang tulisan-tulisannya belum terkumpul menjadi buku khusus membahas lukisan Nagasepaha. Tulisan-tulisan yang ditulis Hardiman tentang lukisan kaca Nagasepaha berserak di berbagai media (silahkan lihat arsip dalam blog ini). Ia juga beberapa kali menjadi kurator pameran lukisan kaca Nagasepaha. Bisa dikatakan dialah orang Indonesia yang paling fasih membicarakan lukisan kaca Nagasepaha. 


Selain diteliti oleh 3 peneliti tersebut di atas, lukisan kaca Nagasepaha sering kali juga menjadi objek penelitian oleh team peneliti dan tempat magang para mahasiswa seni rupa Bali.


*Disarikan oleh Sugi Lanus, ia sempat mendampingi penelitian awal Joseph Fisher, mengenal Thomas Cooper dan kawan diskusi Hardiman.

The Art of Glass Painting in Nagasepaha Buleleng

Text by Sidarta Wijaya on Friday, 7 August 2009 http://blog.baliwww.com

Buleleng regency has many unique handicraft products in its repertoire, one of them is glass painting. The art of glass painting can be found in the village of Nagasepaha, near Singaraja. The glass painting art in Nagasepaha is relatively new, it appeared in 1927. The pioneer of this art was Jro Dalang Diah.



The early glass painting in Nagasepaha Buleleng focuses on wayang related themes, such as fragments from the stories of Ramayana, Mahabarata, Sutasome, Arjunawiwaha, etc. The scenes in those holy tales dominated the themes of glass painting at that time. But today, besides wayang themes, other themes related to daily life are used as main theme: social, politics, and mass media. Comical and parodic approaches to the theme are also used.

The history and development of glass painting art in Nagasepaha Buleleng can be divided into three different periods. The first period is known as the Early Period (1927-1950s), during which artists mostly used scenes from Balinese wayang, with no precise setting of time or place. The scenes of this period are based on the concepts of puppetry performance.

The second period is known as the “panoramic” period (1950s-1992), during which landscapes were created through naturalistic art painting. In this period, many people ordered paintings with similar settings as those found in Jelekong painting (West Java) or Sukaraja (Central Java). For more than 40 years, this style gained legitimacy through constant patronizing.

3793420513_507c90bf64

The third period is known as the “decorative” period (1992- now). The involvement of researchers from Undiksha Singaraja, Fine Arts Education Department, gave birth to a new style, thanks to a practice-based research process. The panoramic settings, which were regarded has having no unity of stylecompared to the wayang designs of the first period, came to be replaced by this new style derived from other North Bali decorative arts.




The tools and materials for making glass painting are Chinese ink, wood paint, and a piece of glass. The production of glass painting in Nagasepaha village is not just dominated by adults but many children are also involved. The glass painting art in Nagasepaha has become a part of daily life of the village.

Text by Sidarta Wijaya on Friday, 7 August 2009 http://blog.baliwww.com

80 Tahun Nagasepha "Survive" dari "Isolasi" Kemakmuran Pariwisata

Berita Bentara Budaya 26 Oktober 2009 
Putu Wirata Dwikora*
Pameran Seni Lukis Kaca Nagasepha di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar, Bali, Jumat (23/10). Pameran yang akan berlangsung hingga 27 Oktober itu menampilkan karya-karya 12 pelukis kaca asal Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng, termasuk pelaku pertama seni lukis kaca di desa itu yang kini berusia 100 tahun, I Ketut Negara atau lebih dikenal dengan nama Jro Dalang Diah.
 



Lukisan kaca di Desa Nagasepha, Buleleng, Bali utara, bertahan sampai kini—dengan sedikit perkembangan—kendati 80 tahun lebih sejak dikreasi oleh Jero Mangku Diah (1909), ia terpencil dari pasar: galeri, kolektor, dan balai lelang.


Pameran di Bentara Budaya Bali, 17-27 Oktober 2009, ini jadi pertanda, lukisan Nagasepha tetap eksis dan menurun dalam empat generasi. Ada sedikit perkembangan tematik dan teknik. Namun, sambutan apresiatif dari masyarakat yang dilihat dari respons perangkat pasar amatlah terbatas. Dibanding lukisan Kamasan, Ubud, atau Batuan, yang melahirkan pelukis dalam jumlah puluhan lebih, serta harga karya mereka bisa mencapai ratusan juta; lukisan-lukisan Nagasepha yang dipajang di Bentara Budaya Bali belum ada yang dijual dengan harga Rp 10 juta.


Harga tinggi memang bukan satu-satunya barometer untuk apresiasi dengan kualitas tinggi. Namun, kalau memerhatikan perkembangan seni lukis Bali mulai 1930-an sampai kini, di mana muncul nama dari generasi Lempad-Cokot sampai Bendi-Budiana, lambannya perkembangan seni lukis Nagasepha boleh jadi karena rendahnya dukungan lingkungan di sekitarnya. Nagasepha memang jauh dari ibu kota Singaraja ataupun Pantai Lovina. Apalagi Denpasar, Kuta, ataupun kampung turis Ubud. Dalam peta dan buku-buku perjalanan, Nagasepha juga tidak setenar desa dan kota wisata itu. Survive 80 tahun lebih dalam kondisi ”mengenaskan’’ seperti itu merupakan keajaiban di era serba kapital dan komersial zaman kini.


Seperti diuraikan Hardiman, kurator pameran yang dosen di Universitas Ganesha, Singaraja, lukisan Nagasepha berawal dari nama Jero Diah, seorang tamatan SR (Sekolah Rakyat). Pada 1927 Diah seorang dalang, pembuat wayang, dan juga petani di Desa Nagasepha. Ia menerima pesan untuk melukis wayang di atas kaca dari Wayan Nitia. Nitia membawa sebuah contoh lukisan Jepang. Tidak dibuat seperti ketika melukis di kanvas, lukisan kaca mesti sebaliknya. Dibuat di belakang permukaan kaca, karena itu pengerjaannya pastilah berbeda. Diah melewati proses coba-coba, mulai dari memilih cat yang bisa menempel di kaca, cara melukis yang mesti dikerjakan terbalik. Pada awalnya, hasil karyanya benar-benar terbalik karena ia berkarya menggunakan ”logika optik’’ seperti melukis langsung di permukaan. Dari kesalahan itulah ia belajar dan terus memperbaiki tekniknya.


Sejak itu, Dalang Diah membuat lukisan wayang kaca, dijual kepada tetangga dan desa sekitarnya. Jero Diah serta anak-anak cucu maupun tetangga yang ikut menggambar tidak pernah punya ambisi menjadi seniman dengan visi personal, seperti seniman-seniman Bali yang berkreasi di Ubud, Batuan, ataupun Kamasan. Karenanya, ketika pada 1970-an ada permintaan untuk memasukkan pemandangan sebagai latar belakang—seperti halnya lukisan kaca Desa Sukaraja, Jawa Tengah, dan Jelekong, Jawa Barat—mereka menerimanya, apalagi karena secara teknis mereka mampu menggarapnya.


Pasar
Perkembangan yang lumayan menarik muncul pada pelukis kaca yang aktif di era 2000-an ini. Dari yang dipamerkan di Bentara Budaya Bali, Ketut Santosa (lahir 1970), tamatan SMP, murid langsung Jero Diah, Ketut Suradi (lahir 1982), tamatan SMP, dan Ketut Samudrawan (lahir 1977), sarjana seni rupa; memperlihatkan pembaruan itu. Santosa menggunakan tokoh-tokoh pewayangan untuk setting masyarakat kontemporer, sementara Samudrawan memasukkan properti masyarakat modern ke dalam setting cerita pewayangan lama.


Dalam karya-karya Santosa, punakawan congkak Delem dan punakawan lihai Sangut, atau Tuwalen yang bijak, bisa hadir dalam peristiwa masa kini, entah itu kehidupan sosial politik, semisal kafe remang-remang, pemilihan kepala daerah, demonstrasi melawan undang-undang pornografi-pornoaksi, refleksi tentang terorisme, sindiran terhadap perilaku korupsi dan sebagainya.


Samudrawan memperlihatkan model sebaliknya. Hanuman yang sakti mandraguna dalam cerita Ramayana, dalam karya Samudrawan dilukiskan ngebut di atas sepeda motor, menabrak para raksasa yang mempertahankan Kerajaan Alengka, ekornya menyala dan menimbulkan kebakaran hebat di negeri Raja Rahwana itu. Kendati pesan dari gambar ini sangat umum, masuknya sepeda motor boleh jadi semacam representasi, betapa kendaraan produk negeri Sakura itu sedemikian merajalela di Bali, simbol dari berbagai hal: kemakmuran, kecepatan, budaya konsumtif, dan sebagainya.


Suradi lebih bervariasi. Ia eksploratif secara visual maupun teknik. Teknik realis, efek cipratan, dan dusel tampil bersama dengan teknik wayang yang sebelumnya sudah dikenal. Tokoh pewayangan digunakan sebagai metafora perilaku kekinian, misal Arjuna sebagai perlambang playboy, para punakawan yang jadi simbol dari perilaku hedonis.


Memang, secara kualitatif, Kamasan yang telah menjadi desa-kota dan mendapat kunjungan turis maupun intelektual dari berbagai pelosok Indonesia, sampai kini belum terdengar melahirkan ”avant-garde tradisi’’, seperti halnya Santosa, Suradi ataupun Samudrawan. Nagasepha, kendati ”terpencil’’ secara fisik maupun pasar, punya harapan untuk mengembangkan diri, seperti Batuan yang punya Bendi atau Ubud yang punya Ida Bagus Made.


Ida Bagus Made yang eksentrik bisa melukis keriuhan parade bade pengabenan yang ricuh, Bendi memasukkan helikopter, mobil, dan sepeda motor dalam lukisannya, sesuatu yang tidak jauh beda dengan inovasi Samudrawan, Santosa, ataupun Suradi ini. Keduanya sama-sama berhasil survive sepanjang 80-an tahun, kendati yang satu lebih makmur, yang satunya lagi masih merana.


Kendati pasar dan kapitalis sering kali dihujat oleh sebagian seniman—yang sebagian di antaranya justru menjadi pelayan pasar paling setia—Nagasepha menjadi bukti, tanpa pasar yang cukup, 80-an tahun eksistensinya adalah perkembangan yang lamban dan merana.


*Putu Wirata Dwikora, Pengamat Seni, Tinggal di Denpasar